Rabu, 20 Desember 2023

Oppenheimer 2023: Memberi gambaran perilaku ambigu manusia dari waktu ke waktu


Sutradara populer Christopher Nolan kembali membuat film terbaru bertema biopik mengenai kisah hidup founder bom atom pertama kali di dunia yakni J. Robert Oppenheimer yang berjudul Oppenheimer (2023). Sebenarnya aku adalah pengagum film Nolan karena sudah pasti filmnya keren dan plotnya kompleks. Film Nolan seperti menguji apakah nalar kita cukup baik dalam mencerna sebuah film. 

Ketika film ini sedang tayang di bioskop salah satu teman mengajak untuk nonton bareng. Tapi ajakan itu aku tolak, karena aku tahu sekali film Nolan tidak akan cukup di tonton 1 kali. Dia selalu memberikan banyak sekali unsur dalam setiap adegan yang aku rasa jika hanya di tonton 1 kali tidak akan cukup. Tentunya akan percuma ketika kita sengaja menonton bioskop tapi kita tidak paham sepenuhnya tentang alurnya. Jadi aku hanya perlu sabar sedikit untuk menunggu web rilis film oppenheimer dan bisa sesukanya aku putar berulang-ulang.

Di dalam film ini kita bisa merasakan apa yang di pikirkan oleh tokoh utama. Kita bisa merasakan apa yang dia pikirkan secara nyata. Efek visual dan efek musik yang di suguhkan sangatlah epik dan membuat kita hanyut dalam kekhawatiran Oppenheimer saat dirinya tahu bahwa dia akan memulai era senjata pemusnah masal dimana hal itu sebenarnya tidak ia inginkan. Film ini adalah film yang serius dimana banyak sekali adegan dialognya. Tapi jika kita mengerti justru dalam adegan berdialog itulah film ini bisa menjadi seru dan hidup. Melalui adegan-adegan itu juga kita menjadi tahu apa yang menjadi perdebatan antara politik dan science.

Meskipun ini hanyalah sebuah film yang mungkin bisa di lebih-lebihkan bahkan di kurang-kurangi. Tapi wawasan saya seperti terbuka. Bukan tentang filmnya, tapi bagaimana orang-orang di jaman dulu bisa menginisiasi sebuah hal baru yang bahkan bisa mempengaruhi seluruh dunia. Bom atom adalah senjata pemusnah masal yang dampak ledakannya maha dahsyat. Hal itu bisa terwujud karena usaha penelitian yang di lakukan oleh para ilmuwan dunia yang di kumpulkan di Amerika dalam Manhattan Project. Kita bisa melihat bahwa manusia bisa melakukan apapun demi egonya. Bahkan nyawa tidak lagi berarti jika sudah berbicara mengenai hawa nafsu manusia. Lihatlah, bom yang susah payah di ciptakan, bahkan sampai menguras pikiran para ilmuwan dunia yang sangat cerdas. Pada akhirnya hanya digunakan untuk membunuh. 

Sekarang, tanpa di sadari meskipun Opppenheimer telah lama mati tapi kita masih hidup dalam eranya. Apa yang dia mulau menjadi efek berantai dimana setiap negara berlomba menciptakan bom yang memiliki ledakan dahsyat dan bisa digunakan antar benua. Setiap negara telah mengunci sasaran satu sama lain. Maka tidak salah jika Oppenheimer menyesali apa yang telah dia buat. Jika benar hari itu terjadi, maka seluruh langit akan di lintasi bom nuklir yang beterbangan menyebrangi benua. Ketika bom itu masih menyasar targetnya, ada bom lain yang terbang untuk membalasnya ke negara yang memulai konflik itu terjadi. Disitulah mimpi buruk menjadi nyata. Perang dunia di mulai, jutaan nyawa melayang. Maka dunia akan menjadi sarang kesengsaraan.

Manusia tidak akan bisa adil dengan egonya. Apakah Amerika dan para ilmuwan yang terlibat dalam pembuatan bom merasa bahwa mereka cukup membuat dunia menjadi lebih baik? atau setidaknya membuat Amerika berjaya. Tidak sama sekali, pencapaian yang mereka lakukan adalah semu. Mereka berdiri di atas mayat-mayat hangus di Hiroshima dan Nagashaki. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang suci, ketika manusia membuat keburukan pasti batinnya tersiksa dan tidak membenarkan. Sejarah-sejarah ini merupakan bukti bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas dan sangat ambigu dalam bertindak dan mengambil keputusan. Manusia tidak pernah bisa menjadi benar selama egonya masih menang.

Demikianlah pandanganku mengenai film ini. Bukan hanya sekdar film yang keren, tapi kita juga jadi bisa memahami perilaku manusia yang penuh keegoisan dan ambigu.


 




Share:

0 comments:

Posting Komentar