Rabu, 06 Maret 2019

Kisah Nyata, Sendirian Tersesat Di Gunung.


Semua berawal seperti biasanya sebelum pendakian kami melakukan registrasi di basecamp pendakian. Karena kami berencana hanya melakukan pendakian selama 1 hari dengan rencana berangkat pagi dan turun dari puncak sebelum matahari terbenam, jam 8 pagi dengan di awali dengan berdo’a kami berdua memulai perjalanan. Kami bercanda dan tertawa di sepanjang perjalanan tapi semua berubah waktu kami sampai di pos terakhir sebelum ke puncak, karena saat itu pemandangan di sekitar sangat indah saya meminta ijin untuk tinggal sebentar untuk mengabadikan momen indah tersebut, pemandangan yang tadinya sangat indah dan hijau tiba-tiba di selimuti kabut yang sangat tebal dan jarak pandangpun berkurang. dengan tergesa-gesa saya memasukan kamera ke dalam tas dan berusaha menyusul teman saya yang  naik duluan tapi di tengah perjalanan saya mendapati jalur yang bercabang, karena jalur ke kanan lebih landai saya memutuskan untuk melaluinya, tapi ternyata jalur itu lebih jauh dan kagetnya lagi ketika sampai di puncak tidak ada seorangpun yang ada disana, saat itu saya berfikir teman saya belum sampai puncak atau malah sudah turun dan saya putuskan menunggunya selama 30 menit, sambil menunggu saya membuka bekal makanan dan minuman yang saya persiapkan dari rumah. Setelah makan saya berkali-kali berteriak memanggil teman saya tapi sama sekali tidak jawaban. Akhirnya 30 menit berlalu saat itu sudah jam 15:00 karena cuaca saat itu kurang bersahabat saya putuskan untuk turun.

Setelah 1 jam perjalanan saya baru sadar kalau saya tersesat, jalur yang tadinya terbuka malah semakin menyempit dan untuk menemukan jalur yang benar saya kembali naik ke puncak tapi ada hal yang tidak wajar setiap turun saya selalu sampai di tempat yang sama bahkan saya sampai mengulanya 3 kali. Kebetulan saat itu hari keempat survivor hilang yang di gunung sindoro, teringat hal itu saya bersujud memohon kepada sang pencipta agar diberi petunjuk dan secepatnya sampai di basecamp dalam keadaan sehat, tidak lama kemudian hari mulai gelap tapi kabut juga mulai menghilang dan di kejauhan saya melihat sebuah punggungan, saya mengeluarkan kamera berharap bisa melihat objek yang jauh menggunakan lensa zoom. Ada sebuah objek yang saya yakini adalah jalur pendakian yang sebenarnya dan letaknya masih sangat jauh dari tempat saya berdiri, setelah mempersiapkan alat penerangan saya melanjutkan perjalanan ke tempat tersebut. Terkena pohon berduri, terjatuh sampai terkilir itu yang saya rasakan saat melewati vegetasi yang sangat lebat. Jam 20:00 akhirnya saya sampai di punggungan yang saya tuju tapi ternyata itu bukan punggungan jalur pendakian, kebetulan di tempat itu sudah ada sinyal jadi sambil istirahat saya mencoba mencari tahu lokasi saya menggunakan GPS handphone ternyata saya tersesat cukup jauh dari jalur pendakian, untungnya tidak jauh dari tempat saya beristirahat ada bekas warga mencari rumput untuk ternak, jadi saya yakin kalau sudah berada tidak jauh dari pemukiman penduduk. Di sisi lain saya sangat mengkhawatirkan keadaan teman saya, dia turun melewati jalur pendakian yang benar atau tersesat seperti saya dan karena hp teman saya belum bisa di hubungi, saya mengirim sms kalau saya tersesat tapi sekarang hampir sampai pemukiman warga. sambil menahan rasa sakit yang ada di kaki saya akibat terkilir di perjalan tadi saya melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih.
Jam 22:00 saya merasa ada sesuatu yang tidak wajar, saya merasa hanya berputar-putar ketika saya seharusnya sampai di ladang penduduk, saat melihat lokasi saya lewat GPS ternyata posisi saya belum jauh dari tempat istirahat yang tadi. Kemudian saya kembali bersujud sambil memohon perlindungan dari hal-hal buruk yang akan mencelakakan saya.
kemudian saya melanjutkan perjalanan, saat itu persediaan air sudah habis dan saya benar-benar kehausan. Dalam hati saya berkata ‘’semoga secepatnya mendapatkan sumber air’’, entah secara kebetulan atau apa baru beberapa langkah kedepan saya mendengar gemercik air di bawah sekumpulan pohon bambu yang lumayan lebat. Ternyata suara itu dari pipa untuk keperluan penduduk yang bocor, seketika saya langsung meminum tumpahan air tersebut, setelah puas meminum air segar dari pipa saya mengeluarkan botol kosong yang ada di dalam tas, tapi baru terisi setengah saya mendengar tawa cekikikan yang cukup jelas tepat di atas saya, dengan masih terus mengisi botol dengan air tumpahan dari pipa saya berkata “ permisi mbah, saya cuma minta airnya sedikit dan saya tidak berniat jahat jadi tolong jangan jahati saya, saya hanyalah pria lugu yang sedang tersesat gak lebih. Itupun bukan kemauan saya.” Tapi bukan berhenti tertawa yang bersangkutan tertawanya malah semakin bersemangat. Bukanya saya tidak perhatian dengan "kau tahu itu apa" tapi saya tetap menunduk sambil mengisi botol air minum yang sudah hampir penuh.
Setelah botol air penuh saya melanjutkan kembali melanjutkan perjalanan, tak lama kemudian sampai di perkebunan warga. Saya semakin bersemangat ketika melihat cahaya lampu salah satu rumah penduduk, baru beberapa kali melangkahkan kaki saya dapat telepon dari teman saya kalau dia sudah sampai basecamp dan dia sangat mengkhawatirkan keadaan saya. Ternyata teman saya pas naik lewat jalur kiri yang terjal tapi dengan waktu tempuh yang lebih cepat, dia di puncak menunggu saya lumayan lama tapi karena khawatir dengan keadaan saya dia kembali turun untuk mencari saya, di tengah perjalanan dia bertemu pendaki lain dan turun bersama. Saya lega setidaknya tidak mengalami hal seperti yang menimpa saya dan saya tinggal mengkhawatirkan diri sendiri yang saat itu sudah kehabisan tenaga, tinggal semangat yang masih terus berkobar.
jam 23:00 akhirnya saya sampai di pemukiman penduduk, saya bertanya kepada bapak-bapak yang kebetulan baru pulang dari pengajian, saya bertanya kepada beliau nama desa tersebut dan saya sangat terkejut ternyata saya berjarak kurang lebih 40 KM dari basecamp pendakian. Kemudian saya memberi tahu lokasi saya kepada teman saya sudah sampai basecamp. Sambil menunggu teman saya menjemput, karena saat itu keadaan sudah sangat sepi saya di ajak ke rumah bapak-bapak yang tadi. Sambil menceritakan kejadian yang menimpa saya, saya di ajak makan dan di beri minuman hangat.

Setelah menunggu lumayan lama akhirnya teman saya datang bersama 2 orang pengelola basecamp pendakian, dan setelah berpamitan saya kembali menuju basecamp. Setelah meminta maaf karena sudah merepotkan pengelola basecamp saya berpamitan pulang ke rumah. Jam 02:00 akhirnya saya sampai rumah dengan selamat dan hujan turun sangat lebat di sertai angin yang kencang. Saya sangat bersyukur karena bisa pulang  kerumah dengan selamat dan masih di beri kesempatan untuk memperbaiki hidup saya. Saya tidak bisa membayangkan apa selanjutnya yang terjadi pada diri saya kalau saat itu saya masih tersesat di gunung kedinginan atau bertemu binatang buas dalam kondisi cuaca yang sangat buruk.

Yang membuat saya menangis adalah ketika beberapa hari kemudian saya mendapat kabar dari teman saya yang kebetulan menjadi relawan kalau survivor yang hilang di gunung sindoro telah di temukan tapi sudah dalam keadaan meninggal. Tak lupa saya memberikan do’a kepada almarhum agar di ampuni dosa-dosanya dan di terima semua amal ibadahnya Sejak kejadian itu saya merasa seperti dilahirkan kembali, saya menjadi orang yang sangat berbeda. Saya selalu berusaha menjadi manusia yang lebih baik tentunya ...

Cerita ini di tulis berdasarkan pengalaman sahabat saya yang tidak mau di sebutkan identitasnya saat melakukan pendakian di salah satu gunung di indonesia yang memiliki ketinggian lebih dari 3000 MDPL. Dan untuk menjaga identitas sahabat saya, saya mohon maaf kalau tidak mencantumkan nama gunung dan nama jalur pendakian yang di gunakan. Saya tidak ada maksud apapun, saya hanya menulis yang diminta oleh sahabat saya. Sahabat saya hanya ingin menjaga perasaan keluarganya karena apabila keluarganya tahu kejadian tersebut akan sangat bersedih dan sahabat saya tidak akan di izinkan untuk melakukan pendakian lagi, dia berharap dengan menceritakan pengalamanya kepada saya dan di tulis di blog akan menjadi peringatan betapa pentingnya kekompakan tim dalam sebuah pendakian, jangan pernah memisahkan diri dari kelompok atau berpisah dari teman pendakian walaupun hanya sebentar karena walaupun hanya berjarak 10 meter saja bisa berubah menjadi bencana, dalam keadaan cuaca buruk,hujan badai berpetir atau kabut tebal bisa membuat teman atau rombongan tiba-tiba menghilang dari pandangan, dan jangan pernah meremehkan apapun dalam sebuah pendakian,  selalu fokus dan jangan lupa selalu meminta perlindungan kepada sang pencipta agar di beri kemudahan dan kelancaran dari awal sampai pulang kerumah.





Terima kasih, semoga bermanfaat.


Salam lestari ...




sumber: http://duapagiwae.blogspot.com/2015/12/kisah-nyata-sendirian-tersesat-di-gunung.html
Share:

0 comments:

Posting Komentar