Sabtu, 30 Maret 2024

Kamu sama sepertiku, ditinggalkan oleh Ayahanda di bulan ramadhan


Turut berduka cita untuk teman kerjaku, Japal. Tulisan ini adalah pengalamanku kemarin ketika mengunjungi rumah duka.

Membaca kabar duka di whatsapp ketika jam sahur. Di awal pagi semua rekan berkumpul di bunderan 3 citra raya. Tidak biasanya kita berkumpul sepagi ini diluar jam kerja. Kita sudah berada di titik kumpul jam 6 pagi aku berboncengan dengan Agung, Uais, Nuril, Bayu, dan Boim kita berjalan beriringan ke rumah duka.

Sempat melihat jenazah di mandikan dan tangis anak-anaknya pecah. Pagi yang haru di tanggal merah kala itu. Japal, dia sangat terpukul dengan kepergian Ayahnya. Beberapa kali dia menangis ketika melihat teman-temannya hadir. Pilu sekali melihatnya. Aku pernah merasakan ini dulu. Tangisan terjujur adalah tangisan ketika melihat orang tua kita pergi untuk selamanya.

Ditinggalkan oleh orang tua kita apalagi di momen kebersamaan bulan ramadhan adalah hal yang lebih berat. Kita sama pal, aku juga dulu ditinggalkan ketika h-2 lebaran oleh Ayahandaku. Penyesalannya terasa sampai sekarang, belum bisa memberikan apa-apa untuknya. Tapi mau di sesali bagaimanapun semua sudah terlambat. Sekarang hal yang paling benar yang bisa dilakukan adalah mendoakannya di setiap waktu agar dia tenang disana.

Pesanku untukmu teman, tetaplah terarah ketika yang mengarahkanmu sudah tiada lagi. Jadilah pemimpin seutuhnya yang menjadi naungan semua anggota keluarga. Akupun belum bisa seperti itu, tapi mari kita belajar.

Semoga Allah memberikan kedamaian untuk Ayahanda kita. Dan untukmu serta keluarga, semoga bisa menerima ini semua dengan lapang dada dan memaknainya secara baik.




Share:

1 komentar: