Selasa, 04 Maret 2025

Mengamati perilaku dan keadaan di luar indonesia melalui education trip malaysia-singapura-thailand

Mendapat kesempatan untuk berwisata belajar keluar negeri MALAYSIA-SINGAPURA-THAILAND bagiku adalah hal yang menarik. Akhirnya rasa penasaranku bisa terjawab untuk bisa melihat kondisi negara lain selain Indonesia. Tapi dalam perjalanan kali ini aku diberikan tanggung jawab untuk mendampingi 8 orang anak. Mereka adalah Alka, Owen, Azka, Barra, Arizar, Kenzi, Danish, dan Raihan.



Niatku dari awal bukan aji mumpung untuk berwisata tapi bekerja. Meskipun ini adalah perjalanan wisata tapi pikirku tidak akan bisa menikmatinya karena harus mendampingi 7 orang anak SD dan 1 anak SMP yang pastinya pikirannya belum terlalu dewasa.

Malaysia dan Singapura adalah negara yang bagus. Kabel-kabel listrik tertanam dengan rapih, tata kotanya juga apik. Gedung-gedung yang ada di kedua negara tersebut kurasa lebih megah dibandingkan gedung-gedung yang ada di Jakarta.

Selama disana kita hanya di suguhi hiburan buatan seperti air terjun jewel di changi airport, super tree di garden by the bay, ataupun cable car di genting higland. Dalam bidang modernisasi kurasa 2 negara ini sangat unggul dibandingkan Indonesia. Jalan-jalan yang dilalui di 2 negara ini juga sungguh bagus bahkan perjalanan yang mengambil waktu 8 jam seperti tidak terasa karena bus melaju lancar dan nyaman.

Ada hal yang terlihat kontras sekali dimana pekerja kasar seperti supir ataupun cleaning service selalu dikerjakan oleh orang etnis india ataupun bangladesh. Katanya mereka mau bekerja dengan upah murah. Sedangkan orang-orang melayu biasanya aku temukan bekerja di restaurant ataupun pelayanan hotel.

Gaji guru di Malaysia juga ternyata besar, melebihi gaji umr karyawan biasanya. Kalau karyawan bergai 1.600 ringgit, maka guru yang baru memulai karirnya bisa bergaji 2.600 ringgit ucap Bang Azwan sebagai tour guide di Malaysia.

Semua tempat yang di kunjungi di Malaysia dan Singapura rata-rata bagus dan bersih. Bangunannya juga megah-megah dan indah. Oh iya, tempat-tempat public outdoor selalu memiliki kipas besar yang menghasilkan angin buatan. Jadi orang-orang yang menunggu tidak akan kegeragan, hal ini tidak kita temukan di Indonesia.

Sekarang kita bahas Thailand, negara yang kurasa mirip seperti Indonesia. Dimana kabel-kabel listrik bertebaran dan kusut tidak beraturan. Ruko-ruka kumuh dan kotor. Ini benar-benar sama seperti di Indonesia. Kita bisa melihat perbedaan perlakuan oleh pemerintah. Perbatasan Malaysia dan Singapura sangat apik dan rapih. Tapi tidak dengan Thailand, tepatnya di provisi Songklha sangat mirip dengan Indonesia yang tidak rapih dan bersih.

Ketika memasuki Thailand juga aku merasa merinding melihat pohon-pohon karet yang pucat serta banyaknya kuil yang memiliki patung budha besar, karena selama di Malaysia-Singapura pemandangannya hanya pohon sawit dan bukit-bukit. Jadi seperti vibes horor yang terpanggil dari memori lama akibat menonton film-film horor Thailand.



Dari semua tempat di 3 negara yang aku kunjungi ada satu tempat yang sangat berkesan bagiku. Yakni ketika rombongan menyambangi restaurant China muslim di daerah Malaka, Malaysia. Wah, rasanya sangat hangat makan beramai-ramai dengan wisatawan lain didalam restaurant yang seperti rumah tua duduk bersama di meja bundar menikmati chinnese food halal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.  Kemudian menikmati suguhan es cendol manis dengan toping kacang merah yang perdana juga aku merasakannya. Ditambah ada penampilan tari malaka yang membuat suasana semakin hangat. Inilah yang paling berkesan menurutku dibandingkan berbelanja souvenir ataupun foto-foto ditempat wisata yang mainstream.

Sebenarnya masih ada banyak cerita lainnya yang ingin ku tuliskan. Selama 8 hari di negeri orang perasaanku sangat campur aduk, biarlah bersambung di tulisan berikutnya. Ditunggu ya!



























Share:

Related Posts:

0 comments:

Posting Komentar