Mendapat kesempatan untuk berwisata belajar keluar negeri MALAYSIA-SINGAPURA-THAILAND bagiku adalah hal yang menarik. Akhirnya rasa penasaranku bisa terjawab untuk bisa melihat kondisi negara lain selain Indonesia. Tapi dalam perjalanan kali ini aku diberikan tanggung jawab untuk mendampingi 8 orang anak. Mereka adalah Alka, Owen, Azka, Barra, Arizar, Kenzi, Danish, dan Raihan.
Niatku dari awal bukan aji
mumpung untuk berwisata tapi bekerja. Meskipun ini adalah perjalanan wisata
tapi pikirku tidak akan bisa menikmatinya karena harus mendampingi 7 orang anak
SD dan 1 anak SMP yang pastinya pikirannya belum terlalu dewasa.
Malaysia dan Singapura adalah negara
yang bagus. Kabel-kabel listrik tertanam dengan rapih, tata kotanya juga apik.
Gedung-gedung yang ada di kedua negara tersebut kurasa lebih megah dibandingkan
gedung-gedung yang ada di Jakarta.
Selama disana kita hanya di
suguhi hiburan buatan seperti air terjun jewel di changi airport, super tree di
garden by the bay, ataupun cable car di genting higland. Dalam bidang
modernisasi kurasa 2 negara ini sangat unggul dibandingkan Indonesia.
Jalan-jalan yang dilalui di 2 negara ini juga sungguh bagus bahkan perjalanan
yang mengambil waktu 8 jam seperti tidak terasa karena bus melaju lancar dan
nyaman.
Ada hal yang terlihat kontras
sekali dimana pekerja kasar seperti supir ataupun cleaning service selalu
dikerjakan oleh orang etnis india ataupun bangladesh. Katanya mereka mau
bekerja dengan upah murah. Sedangkan orang-orang melayu biasanya aku temukan
bekerja di restaurant ataupun pelayanan hotel.
Gaji guru di Malaysia juga
ternyata besar, melebihi gaji umr karyawan biasanya. Kalau karyawan bergai
1.600 ringgit, maka guru yang baru memulai karirnya bisa bergaji 2.600 ringgit
ucap Bang Azwan sebagai tour guide di Malaysia.
Semua tempat yang di kunjungi di
Malaysia dan Singapura rata-rata bagus dan bersih. Bangunannya juga megah-megah
dan indah. Oh iya, tempat-tempat public outdoor selalu memiliki kipas besar
yang menghasilkan angin buatan. Jadi orang-orang yang menunggu tidak akan
kegeragan, hal ini tidak kita temukan di Indonesia.
Sekarang kita bahas Thailand,
negara yang kurasa mirip seperti Indonesia. Dimana kabel-kabel listrik
bertebaran dan kusut tidak beraturan. Ruko-ruka kumuh dan kotor. Ini
benar-benar sama seperti di Indonesia. Kita bisa melihat perbedaan perlakuan
oleh pemerintah. Perbatasan Malaysia dan Singapura sangat apik dan rapih. Tapi
tidak dengan Thailand, tepatnya di provisi Songklha sangat mirip dengan
Indonesia yang tidak rapih dan bersih.
Ketika memasuki Thailand juga aku
merasa merinding melihat pohon-pohon karet yang pucat serta banyaknya kuil yang
memiliki patung budha besar, karena selama di Malaysia-Singapura pemandangannya
hanya pohon sawit dan bukit-bukit. Jadi seperti vibes horor yang terpanggil
dari memori lama akibat menonton film-film horor Thailand.
Dari semua tempat di 3 negara
yang aku kunjungi ada satu tempat yang sangat berkesan bagiku. Yakni ketika
rombongan menyambangi restaurant China muslim di daerah Malaka, Malaysia. Wah,
rasanya sangat hangat makan beramai-ramai dengan wisatawan lain didalam
restaurant yang seperti rumah tua duduk bersama di meja bundar menikmati
chinnese food halal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Kemudian menikmati suguhan es cendol manis
dengan toping kacang merah yang perdana juga aku merasakannya. Ditambah ada
penampilan tari malaka yang membuat suasana semakin hangat. Inilah yang paling
berkesan menurutku dibandingkan berbelanja souvenir ataupun foto-foto ditempat
wisata yang mainstream.
Sebenarnya masih ada banyak cerita lainnya yang ingin ku tuliskan. Selama 8 hari di negeri orang perasaanku sangat campur aduk, biarlah bersambung di tulisan berikutnya. Ditunggu ya!
0 comments:
Posting Komentar