Rabu, 15 Desember 2021

Kerumunan memicu kerusuhan (Psikologi massa)

 


Kenapa sering terjadi kericuhan saat massa berkumpul? Kenapa massa yang banyak sangat sulit di atur?
Ternyata ada peranan psikologis yang sangat berpengaruh ketika terjadi kerumunan, di tambah faktor-faktor lain yang dapat memicu kerumunan menjadi tak terkendali. 

Menjadi bagian dari kelompok seperti menonton pertandingan sepakbola atau konser musik bisa  menjadi pengalaman yang unik dan menyenangkan. Ketika ada orang yang memulai bertepuk tangan di tengah kerumunan orang lainnya akan cepat merespon hal yang sama, begitu juga saat seseorang memulai cemoohan negatif orang lainnya akan mulai melakukan hal yang sama. Hal-hal demikian seringkali dilakukan tanpa disadari atau hanya ikut-ikutan saja. 

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan prilaku aneh bahkan bisa berubah anarkis pada kerumunan diantaranya adalah :

1. Anggota kerumunan cenderung tak tahu jati diri

Dalam kerumunan orang bisa kehilangan fokusnya dan dengan mudah meniru perilaku orang-orang di sekelilingnya. Hal ini terjadi karena anggota kerumunan tersamarkan identitasnya oleh kelompok yang ia ikuti, sehingga tak lagi bisa memikirkan dampak apa yang bisa terjadi ketika dia mengikuti perilaku kelompoknya. Bahkan ketika kelompok membuat anarkis anggotanya hanya bisa mengikutinya tanpa memikirkan dampaknya.

2. Anggota kerumunan mengedepankan solidaritas

Orang-orang dengan tujuan yang sama yang bergabung dalam sebuah kelompok akan memiliki solidaritas yang tinggi. Perlakuan spontanitas yang biasa ditemui di lapangan antara dua kelompok bisa memicu terjadinya kesalahpahaman dan memicu anarkisme. Kerumunan ini paling rentan terpicu amarahnya karena mereka memiliki cita-cita yang sama dan tak terima jika diperlakukan tidak adil oleh kelompok lain. Selain itu individu akan cenderung lebih frontal dan berani jika mereka berkelompok.
 

3. Latar belakang sosial dan ekonomi

Scott menunjukkan bahwa perilaku kerumunan dalam kerusuhan hanya merupakan satu gejala dari sebuah masalah utama yang mendasarinya. Penjarahan massal dan aksi bakar-bakaran saat krisis moneter tahun 1998, misalnya, menunjukkan kemarahan publik terhadap ketidakseimbangan ekonomi atau kurangnya kesempatan yang adil bagi masyarakat.

Simon Moore, peneliti dari Violcence &Society Research Group di Cardiff University, Wales berpendapat bahwa ada satu faktor penentu yang mungkin menyatujan semua perusuh, yaitu persepsi bahwa ada satu faktor penentu yang mungkin menyatukan semua perusuh, yaitu persepsi bahwa mereka datang dari status rendah secara sosial, ekonomi, dan politik. Pada studi yang ia lakukan, Moore menemukan bahwa status ekonomi rendah (lebih tidak mampu secara finansial daripada orang-orang lain di area yang sana) dan bukan kemiskinan nyata (yang didefinisikan sebagai tidak adanya kemampuan membayar hal-hal yang anda butuhkan) menimbulkan penderitaan. Bersamaan dengan penderitaan, atatus diri yang rendah dalam masyarakat juga mengakibatkan rasa permusuhan. Menurut Moore, status rendah mendorong stress yang dijadikan nyata dalam benruk agresi.

Simon Moore, peneliti dari Violence & Society Research Group di Cardiff University, Wales, berpendapat bahwa ada satu faktor penentu yang mungkin menyatukan semua perusuh, yaitu persepsi bahwa mereka datang dari status rendah secara sosial, ekonomi, dan politik. Pada studi yang ia lakukan, Moore menemukan bahwa status ekonomi rendah (lebih tidak mampu secara finansial daripada orang-orang lain di area yang sama) dan bukan kemiskinan nyata (yang didefinisikan sebagai tidak adanya kemampuan untuk membayar hal-hal yang Anda butuhkan) menimbulkan penderitaan. Bersamaan dengan penderitaan, status diri yang rendah dalam masyarakat juga mengakibatkan rasa permusuhan. Menurut Moore, status rendah mendorong stres, yang dijadikan nyata dalam bentuk agresi

Dengan memahami konsep psikologi massa kita menjadi tahu bahwa ada potensi-potensi yang patut di sadari dan waspadai ketika kita berada di situasi demikian, karena jika kerusuhan sudah pecah maka kelompok akan sulit di atur dan menjadi berbahaya bagi individu yang terlibat.

 


Share:

0 comments:

Posting Komentar