Ya Allah, sungguh aku tak tahu aku sedang di titik yang mana dalam kehidupan. Tapi, aku merasa ini adalah hal yang sangat luar biasa berat dalam hidupku yang singkat ini.
Sosok kecil yang menjadi kebahagiaanku dan harapanku telah pergi meninggalkanku di dunia. Betapa sakit dan hancurnya hatiku menerima takdir yang begitu pahit. Sangat-sangat pahit, perih, dan malang.
Khai Zirah Fardhani, anak pertamaku yang sangat aku sayangi lebih dari apapun.
Lahir 14 Januari 2025
Wafat 19 Juni 2026
Izinkan aku mengungkapkan ratapan dan ketidakberdayaanku menerima ini semua.
Dadaku masih sesak hingga sekarang, hari ke 28 setelah kepergiannya.
Aku diberikan jalan hidup yang membuat trauma hebat dan begitu nyata.
Aku berharap sedikit apa yang aku tulis bisa membuat sesak ini mereda, meskipun aku juga tak mau jika sampai kesedihanku terobati.
Khai, Papa ingin mengenangmu seluruhnya. Papa tak mau hanya mengingat bagian bahagianya saja dari kehadiranmu. Tapi, Papa mau, Papa selalu ingat bagaimana rasa sakitmu selama berjuang di dunia yang tak berperasaan ini.
Melihat dunia ini seperti tak ada warnanya lagi.
Senyumku terasa palsu.
Makna hidup serasa hambar setelah kamu pergi, nak.
Hatiku seperti memiliki ruang kosong yang sangat besar sampai-sampai menjalani apapun rasanya tak bergairah lagi.
Aku mencoba normal di depan orang-orang. Tapi sungguh nyata adanya aku tak menikmatinya.
Aku tak berharap pulih, aku hanya berharap aku bisa menjalani sisa waktuku di dunia dengan baik agar Khai tidak kecewa.
Sungguh, kehidupan ini benar-benar menghantamku sekeras-kerasnya, dan pukulan yang terakhir ini benar-benar telak. Aku tak lagi mampu berdiri, tak lagi mampu menemukan makna dalam hidup ini.
Apa yang menjadi jangkarku telah di ambil Tuhan. Kebahagiaanku kosong.
Mulai dari Ayah sakit,
Mamah sakit,
Kemudian Khai juga sakit.
Di akhiri dengan kepergian mereka di dunia. Aku tak lagi asing dengan tanah kuburan.
Hatiku sudah tak ada bentuknya ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat aku sayangi.
Dari segala pikiran Papa tentang garis takdir, Papa adalah orang yang patut di salahkan, nak.
Kalau saja Papa lebih siap secara ekonomi, kalau saja Papa punya pemikiran yang matang tentang memiliki anak tidak sesederhana itu. Papa lebih memilih kamu tetap di sana, di surganya Allah. Bermain dengan para malaikat hingga kamu bosan. Daripada kamu harus memikul beban seperti kemarin di dunia ini. Tak sanggup Papa, nak. Meskipun bukan Papa yang sakit, tapi percayalah nak hati Papa dan Mama itu telah hancur melihatmu menderita seperti itu.
Papa tak akan menghindari vonis bahwa Papa bersalah. Papa tak akan menghindari hukuman yang patut diberikan untuk Papa. Apapun kemalangan yang Papa rasakan sekarang tidaklah lebih berat dari penderitaanmu kemarin.
Papa bawa duka ini hingga ke kuburan Papa nanti. Papa menghargai kehadiran dan kepergianmu. Kamu adalah Khai, satu-satunya anak Papa yang tak tergantikan oleh siapapun.
Persetan dengan ucapan dan harap bahwa Papa akan punya anak lagi. Tak akan nak, kamu tak tergantikan.
Papa akan menua dan mati sendirian hingga masanya nanti Papa bisa bertemu kamu lagi di alam yang berbeda.
1 tahun 5 bulan 5 hari kamu telah mewarnai dunia Papa dan Mama.
Tak semuanya duka, Khai juga memberikan kami warna yang indah di dunia.
Meskipun mengidap penyakit berat, dia tetap sangat aktif dan pertumbuhannya sangat baik.
Nak, terimakasih sudah sayang sama Papa. Papa tak akan pernah lupa pelukan sayang kamu.
Nak, terimakasih sudah luar biasa kuat, andaikan Papa berada di posisimupun Papa tak akan sanggup bertahan sejauh itu.
Kamu lucu..
Sudah mulai berekspresi, mulai pintar memahami instruksi, mulai banyak aksi.
Doyan nonton kereta Youtube.
Bisa joget-joget kicau mania.
Bahkan menari-nari berputar ketika mood kamu sedang bagus.
Nak, Papa itu pengen beliin kamu sepeda dan perosotan loh, karena motorikmu sangat meningkat.
Papa menulis ini sambil nangis nak, Papa ngga kuat mengenang indahnya masa lalu kita.
Kamu suka duduk di depan warung,
Kamu mulai gesek-gesek pantat kamu di tanah yang seperti perosotan, Papa marah karena itu kotor, maaf ya nak.
Segala tingkah kamu adalah anugerah terindah yang pernah terekam di memori Papa.
Kamu benar-benar seperti malaikat kecil yang hinggap sebentar di dunia untuk memberikan Papa kebahagiaan murni, bentuk kebahagiaan tertinggi di dunia yang pernah Papa saksikan dan rasakan.
Anak bayi, bocil yang semaunya sendiri dan susah di atur tapi begitu menggemaskan tingkahnya. Itulah kamu Khai.

0 comments:
Posting Komentar